Opiniaun

Beasiswa Pendidikan sebagai Jembatan Rekonsiliasi

Published

on

Oleh: Nelion Ornai Monteiro

Mahasiswa Magister Hukum Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta.

Ada sesuatu yang menarik dari sebuah pameran pendidikan. Orang datang bukan untuk membeli sesuatu, melainkan untuk mencari kemungkinan. Beberapa perguruan tinggi Indonesia hadir di Pusat Budaya Indonesia (PBI) di Dili pada 8–10 September 2026 untuk memperkenalkan kampus dan menawarkan kesempatan beasiswa. Ribuan anak muda Timor-Leste datang dengan berbagai keperluan. Ada yang bertanya tentang program studi, ada yang ingin mengetahui persyaratan beasiswa, dan ada pula yang sekadar mengambil brosur untuk dibaca kemudian. Pemandangan itu tampak biasa, tetapi jika diperhatikan lebih jauh, ada sesuatu yang sebenarnya sedang berlangsung: manusia dari dua negara sedang bertemu melalui pendidikan.

Advertisement

Pertemuan tersebut tidak hanya mempertemukan universitas dengan calon mahasiswa. Ada orang Indonesia yang datang ke Dili dan bertemu dengan anak-anak muda Timor-Leste yang ingin mengetahui lebih jauh tentang kesempatan belajar di Indonesia. Ada percakapan, pertanyaan, rasa ingin tahu, dan kemungkinan untuk saling mengenal. Pendidikan, dalam arti ini, tidak hanya menjadi jalan untuk memperoleh gelar, tetapi juga ruang perjumpaan antara manusia yang mempunyai pengalaman, kebudayaan, bahasa, dan sejarah yang berbeda. Pertanyaan yang kemudian muncul bukan sekadar berapa banyak mahasiswa Timor-Leste yang nantinya belajar di Indonesia, melainkan pertanyaan yang lebih mendasar yakni untuk apa pendidikan diberikan?

Pertanyaan tersebut mungkin terdengar terlalu sederhana karena kita sudah mempunyai jawaban yang tampaknya jelas. Orang belajar supaya menjadi pintar, memperoleh pekerjaan, memperbaiki kehidupan, dan mempunyai masa depan yang lebih baik. Semua itu benar dan memang menjadi bagian penting dari pendidikan. Akan tetapi, pendidikan tidak selesai ketika seseorang memperoleh ijazah. Ukuran keberhasilan pendidikan tidak hanya terletak pada apa yang diketahui seseorang, tetapi juga pada manusia macam apa yang dibentuk oleh pengetahuan tersebut.

Seseorang dapat mempunyai gelar tinggi tanpa menjadi lebih peka terhadap kehidupan orang lain. Ia dapat menguasai banyak teori tetapi tidak mampu mendengarkan orang yang berbeda darinya. Ia dapat berbicara tentang keadilan tetapi belum tentu mampu memperlakukan orang lain secara adil. Pengetahuan dengan demikian mempunyai persoalan moral yaitu apakah pengetahuan hanya membuat manusia lebih mampu menguasai sesuatu, atau juga membuatnya lebih mampu memahami sesamanya? Pendidikan yang baik semestinya tidak membuat seseorang merasa lebih tinggi karena pengetahuannya, tetapi justru membuatnya semakin sadar bahwa hidupnya selalu berhubungan dengan kehidupan orang lain.

Memanusiakan Manusia

Gagasan tentang pendidikan yang memanusiakan manusia menjadi penting ketika pendidikan berlangsung melampaui batas negara. Mahasiswa Timor-Leste yang belajar di Indonesia tentu datang untuk memperoleh ilmu. Ia belajar hukum, ekonomi, teknik, filsafat, kedokteran, atau bidang ilmu lainnya. Tetapi selama tinggal di Indonesia, ia juga belajar dari kehidupan yang tidak selalu tertulis dalam silabus: belajar dari teman-temannya, dari masyarakat tempat ia tinggal, dari kebiasaan yang berbeda, dari bahasa yang mungkin belum sepenuhnya ia pahami, dan dari cara orang lain melihat kehidupan.

Advertisement

Pengalaman yang sama terjadi pada mahasiswa Indonesia yang berjumpa dengan mahasiswa Timor-Leste. Mereka mungkin memulai hubungan sebagai dua orang yang berasal dari negara berbeda. Setelah beberapa waktu, perbedaan tersebut tidak lagi menjadi hal yang paling penting. Mereka menjadi teman sekelas, teman berdiskusi, teman makan, atau teman yang saling membantu ketika menghadapi kesulitan. Pada saat itu, sesuatu yang semula abstrak menjadi konkret. “Timor-Leste” bukan lagi sekadar nama sebuah negara dan “orang Timor-Leste” bukan lagi sekadar kategori. Ia menjadi seorang teman dengan nama, cerita, keluarga, pengalaman, dan kehidupannya sendiri.

Begitu pula Indonesia bagi mahasiswa Timor-Leste. Indonesia tidak lagi hanya merupakan negara tempat ia memperoleh pendidikan. Indonesia menjadi tempat ia mempunyai pengalaman, sahabat, dan kenangan. Ia mungkin akan pulang membawa ijazah, tetapi ia juga membawa cerita tentang orang-orang yang pernah hadir dalam kehidupannya. Di sinilah pendidikan mulai menjalankan tugasnya yang paling sederhana sekaligus paling penting: membuat manusia mampu melihat manusia lain sebagai sesama.

Karena itu, beasiswa tidak semestinya hanya dipahami sebagai bantuan untuk membayar biaya kuliah. Beasiswa merupakan bentuk kepercayaan bahwa seseorang layak memperoleh kesempatan untuk berkembang dan bahwa kesempatan tersebut kelak dapat membawa sesuatu yang baik bagi kehidupan bersama. Ukuran keberhasilannya karena itu tidak cukup dihitung dari jumlah penerima atau jumlah lulusan. Ada pertanyaan lain yang lebih sulit diukur: apakah penerima beasiswa menjadi lebih terbuka, lebih mampu hidup bersama orang yang berbeda, dan lebih bertanggung jawab terhadap masyarakat setelah memperoleh pendidikan?

Pertanyaan tersebut mungkin tidak pernah tercantum dalam laporan administrasi sebuah program beasiswa. Tetapi justru pertanyaan semacam itulah yang menentukan apakah pendidikan sungguh-sungguh mempunyai arti. Sebab pendidikan bukan hanya perkara membuat seseorang mengetahui lebih banyak, melainkan juga perkara membuat seseorang mampu menempatkan pengetahuannya dalam kehidupan bersama. Pengetahuan yang tidak pernah menyentuh kehidupan manusia lain pada akhirnya mudah menjadi sekadar milik pribadi.

Rekonsiliasi melalui Pendidikan

Advertisement

Hubungan Indonesia dan Timor-Leste mempunyai sejarah yang tidak sederhana. Ada pengalaman yang berbeda, ingatan yang berbeda, dan luka yang bagi sebagian orang mungkin masih mempunyai arti. Masa lalu tidak dapat begitu saja dihapus hanya karena hubungan kedua negara sekarang berjalan lebih baik. Justru karena sejarah tersebut ada, hubungan masa depan membutuhkan sesuatu yang lebih daripada sekadar pernyataan bahwa kedua negara bersahabat.

Rekonsiliasi bukan berarti melupakan masa lalu. Melupakan mungkin justru merupakan cara paling mudah untuk menghindari persoalan. Yang lebih sulit adalah mengingat masa lalu secara jujur tanpa membiarkannya menentukan seluruh hubungan kita dengan orang lain. Masa lalu harus tetap menjadi pelajaran, tetapi tidak semestinya menjadi penjara. Bangsa yang berdamai bukan bangsa yang tidak mempunyai luka, melainkan bangsa yang mampu hidup bersama tanpa menjadikan luka sebagai alasan untuk terus saling mencurigai.

Pendidikan mempunyai kemungkinan yang menarik dalam proses tersebut karena rekonsiliasi tidak selalu dimulai dari meja perundingan. Ia dapat dimulai dari ruang kelas. Ia dapat tumbuh dari percakapan antara dua mahasiswa yang sebelumnya tidak saling mengenal. Ia dapat muncul ketika seseorang bersedia mendengarkan pengalaman orang lain tanpa buru-buru menghakimi. Pertemuan semacam ini kelihatannya kecil, tetapi hubungan antarmanusia memang sering dibangun melalui hal-hal kecil.

Seorang mahasiswa Timor-Leste yang belajar di Indonesia memperoleh pengalaman langsung mengenai masyarakat Indonesia. Ia tidak hanya membaca tentang Indonesia, tetapi hidup di dalamnya. Ia mempunyai dosen Indonesia, teman Indonesia, tetangga Indonesia, dan mungkin suatu hari mempunyai sahabat Indonesia yang tetap berhubungan dengannya setelah ia pulang. Hal yang sama dialami mahasiswa Indonesia yang berteman dengan mahasiswa Timor-Leste. Mereka mulai memahami bahwa perbedaan sejarah tidak harus menjadi alasan untuk menjaga jarak.

Dua orang yang makan bersama, berdiskusi sampai malam, saling membantu ketika menghadapi kesulitan, atau bercerita tentang keluarga dan kampung halaman mungkin tidak merasa sedang melakukan rekonsiliasi. Mereka hanya sedang menjalani kehidupan sehari-hari. Tetapi dari pengalaman sederhana semacam itu, seseorang mulai mengenal orang lain bukan sebagai wakil sebuah bangsa, melainkan sebagai manusia. “Orang Indonesia” menjadi seseorang dengan cerita tertentu; “orang Timor-Leste” menjadi seorang teman dengan kehidupan tertentu. Ketika manusia mulai saling mengenal, prasangka mempunyai kesempatan untuk berkurang.

Advertisement

Karena itu, rekonsiliasi tidak selalu harus dimulai dengan pernyataan besar tentang perdamaian. Ia dapat dimulai dari kesediaan untuk mengenal orang lain. Pemerintah dapat membuat perjanjian, tetapi rasa percaya membutuhkan pengalaman. Dokumen dapat ditandatangani, tetapi persahabatan tidak dapat diperintahkan. Pendidikan memberikan ruang bagi pengalaman tersebut.

Beasiswa pendidikan Indonesia bagi mahasiswa Timor-Leste karena itu mempunyai arti yang lebih luas daripada hubungan antara pemberi dan penerima. Ia dapat menjadi bagian dari diplomasi yang bekerja melalui manusia. Mahasiswa yang belajar di Indonesia membawa pulang bukan hanya pengetahuan dan ijazah, tetapi juga pengalaman tentang masyarakat Indonesia. Sebaliknya, masyarakat Indonesia yang pernah hidup dan belajar bersama mahasiswa Timor-Leste memperoleh pengetahuan yang tidak selalu dapat diberikan oleh buku: pengetahuan tentang manusia Timor-Leste yang nyata.

Dari Rekonsiliasi menuju Persaudaraan ASEAN

Makna tersebut menjadi semakin penting setelah Timor-Leste menjadi anggota ke-11 ASEAN. Keanggotaan itu tentu mempunyai arti politik dan kelembagaan. Tetapi ASEAN tidak akan menjadi komunitas yang hidup hanya karena pemerintah negara-negara anggotanya duduk bersama dalam berbagai pertemuan. Sebuah komunitas regional menjadi hidup ketika masyarakatnya merasa mempunyai hubungan satu sama lain dan melihat bahwa masa depan mereka, meskipun berbeda, mempunyai titik temu.

ASEAN karena itu tidak cukup dibangun dari atas melalui pertemuan para pemimpin negara. Ia juga perlu dibangun dari bawah melalui hubungan antarmanusia. Pendidikan adalah salah satu ruang yang memungkinkan hal tersebut terjadi. Seorang mahasiswa Timor-Leste yang belajar bersama mahasiswa Indonesia mungkin tidak pernah berbicara mengenai ASEAN. Mereka lebih mungkin membicarakan tugas kuliah, ujian, makanan, keluarga, atau rencana masa depan. Tetapi hubungan yang mereka bangun sudah mempunyai arti bagi kehidupan regional karena di dalam hubungan itu mereka belajar hidup bersama dalam perbedaan.

Advertisement

Persaudaraan tidak lahir hanya karena kita menyebut diri sebagai saudara. Persaudaraan tumbuh ketika seseorang mulai mengenal orang lain dan tidak lagi melihatnya sebagai orang asing. Jika seorang mahasiswa Timor-Leste pulang ke negaranya dengan membawa pengetahuan dan beberapa sahabat di Indonesia, hubungan kedua negara telah memperoleh sesuatu yang tidak dapat diukur hanya dengan angka perdagangan atau perjanjian kerja sama. Begitu pula ketika mahasiswa Indonesia mempunyai sahabat di Timor-Leste, batas negara menjadi sedikit kurang berarti dalam kehidupan mereka.

Dari sini pendidikan dapat menjadi salah satu fondasi ASEAN yang lebih manusiawi. Kerja sama pendidikan tentu dapat dikembangkan melalui beasiswa, penelitian bersama, pertukaran mahasiswa dan dosen, serta jaringan alumni. Semua itu penting. Tetapi kerja sama tersebut akan kehilangan makna apabila manusia yang menjadi subjeknya justru hilang di balik bahasa administrasi dan kelembagaan. Tujuan akhirnya bukan sekadar membuat universitas semakin banyak bekerja sama, melainkan membuat manusia semakin mampu hidup bersama.

ASEAN yang kuat karena itu bukan hanya ASEAN yang ekonominya berkembang atau pemerintahnya semakin sering bertemu. Ia juga merupakan ASEAN yang masyarakatnya tidak mudah melihat perbedaan sebagai ancaman. Jika pendidikan mampu membuat seorang anak muda mengenal orang dari negara lain, memahami kebudayaannya, dan membangun kepercayaan kepadanya, pendidikan telah memberikan sumbangan yang nyata bagi kehidupan regional. Hubungan semacam itu mungkin tidak selalu terlihat dalam statistik, tetapi justru dapat menjadi dasar bagi hubungan yang lebih tahan lama.

Beasiswa sebagai Kepercayaan

Pameran pendidikan di PBI Dili sebaiknya tidak hanya dilihat sebagai kegiatan promosi perguruan tinggi. Pameran tersebut membuka sebuah kemungkinan bagi anak-anak muda Timor-Leste untuk mengenal pendidikan Indonesia dan, melalui pendidikan itu, mengenal masyarakat Indonesia secara lebih dekat. Universitas yang hadir di Dili bukan hanya menawarkan program studi. Mereka juga, sadar atau tidak, membuka ruang bagi sebuah perjumpaan.

Advertisement

Beasiswa pun tidak seharusnya dipahami hanya sebagai tiket untuk memperoleh gelar di luar negeri. Ia adalah bentuk kepercayaan. Ketika seseorang memperoleh kesempatan pendidikan, ada harapan bahwa kesempatan tersebut tidak berhenti pada dirinya sendiri. Pengetahuan yang diperoleh semestinya dapat digunakan untuk sesuatu yang berguna bagi masyarakat, sementara pengalaman yang dibangun selama masa studi dapat menjadi bagian dari hubungan yang lebih panjang antara kedua negara.

Tidak semua penerima beasiswa harus pulang menjadi pejabat, dosen, atau peneliti. Setiap orang mempunyai jalan hidupnya sendiri. Ada yang bekerja di pemerintahan, ada yang menjadi profesional, ada yang bergerak di dunia pendidikan, dan ada pula yang memilih jalan lain. Yang penting bukan keseragaman pekerjaan mereka, melainkan apakah pengalaman pendidikan telah meninggalkan kemampuan untuk menghargai orang lain dan membangun sesuatu bersama.

Mungkin kita terlalu sering melihat pendidikan dari hasil akhirnya yakni siapa yang lulus, berapa nilainya, gelar apa yang diperoleh, dan pekerjaan apa yang didapatkan. Padahal ada hasil pendidikan yang jauh lebih sulit dihitung. Misalnya, ketika seseorang yang dahulu merasa asing akhirnya mempunyai seorang sahabat dari negara lain. Atau ketika seseorang mulai memahami bahwa sejarah yang berbeda tidak mengharuskan manusia hidup dalam kecurigaan. Pada titik seperti itulah pendidikan mempunyai daya rekonsiliatif.

Pameran pendidikan di Dili mungkin hanya berlangsung beberapa hari. Setelah itu meja-meja pameran dibongkar, brosur dikemas, dan para peserta kembali ke rumah masing-masing. Tetapi perjumpaan yang terjadi di sana tidak harus berakhir bersama berakhirnya acara. Dari sebuah pertemuan mungkin lahir seorang mahasiswa; dari seorang mahasiswa mungkin lahir seorang sarjana; dan dari seorang sarjana mungkin lahir seorang peneliti, dosen, profesional, atau pemimpin. Tetapi di antara semua kemungkinan tersebut, ada satu hal yang sering luput kita hitung: mungkin juga lahir seorang sahabat.

Pendidikan mempunyai arti yang lebih dalam daripada sekadar proses memperoleh pengetahuan. Ia dapat mengubah cara seseorang melihat orang lain. Bagi Indonesia dan Timor-Leste, hal itu bukan perkara kecil. Kedua bangsa mempunyai sejarah yang tidak sederhana. Justru karena itu, hubungan masa depan tidak cukup dibangun hanya berdasarkan apa yang pernah terjadi, tetapi juga berdasarkan apa yang ingin dibangun bersama.

Advertisement

Barangkali itulah arti terdalam sebuah beasiswa. Ia bukan hanya tentang siapa yang membiayai dan siapa yang belajar, melainkan tentang kepercayaan bahwa generasi muda dapat membangun hubungan yang lebih baik daripada yang diwariskan oleh sejarah. Pendidikan tidak menghapus masa lalu, tetapi dapat memberikan manusia kesempatan untuk mengenal manusia lain tanpa sepenuhnya terkurung oleh masa lalu. Dari pengenalan tumbuh kepercayaan, dari kepercayaan tumbuh persahabatan, dan dari persahabatan perlahan-lahan dapat tumbuh rekonsiliasi. (*)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Trending

Exit mobile version