Connect with us
Pakote Ahi

Nasionál

47 Tahun Setelah Invasi, Timor-Leste Surga yang Hilang dari NKRI

Published

on

Hatutan.com, (07 Desember 2022), Dili-Setiap tanggal 07 Desember, rakyat Timor-Leste mengenang hari invasi Indonesia ke Timor-Leste atau lebih dikenal Operasi Seroja.

Baca Juga : Ramos-Horta Beri Penghargaan “Medalha Mérito” kepada Panglima TNI Andika Perkasa

Invasi Indonesia ke Timor-Leste, 07 Desember 1975. Foto/Dok. Istimewa

Hari ini,  07 Desember 2022, Timor-Leste mengenang 47 tahun kejadian kelam dan pahit, invasi Indonesia ke Timor-Leste dengan dalih antikolonialisme dan antikomunisme untuk menggulingkan FRETILIN  yang muncul pada tahun 1974. Invasi tersebut menelang   ratusan hingga ribuan korban jiwa.

Setelah 24 tahun (1975-1999), melalui perjuangan panjang, rakyat Timor-Leste berhasil merebut dan merestorasikan kemerdekaannya pada 20 Mei 2002, dan sejak itu dan seterusnya Timor-Leste berdiri sebagai sebuah negara yang berdaulat dan bebas.

Advertisement

Rakyat di negeri munggil itu memutuskan untuk memisahkan diri dari pangkuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) lewat jajak pendapat (REFERENDUM) yang diselenggarakan pada 30 Agustus 1999, dengan diprakarsai oleh Perserikatan Bagnsa-Bangsa (PBB).

Sejak memperoleh kemerdekaanya, pemerintahan baru Timor-Leste menjalankan roda pemerintahan dan pembangunan infrastruktur melalui bantuan dana dari negara-negara donor. Melalui bantuan ini, pemerintahan dipimpin oleh Perdana Menteri Mari Alkatiri (2002-2006) berhasil membangun institusi pemerintahan sebagai peletak dasar berdirinya sebuah negara demokratis.

Kucuran uang dari konsesi minyak dengan Australia di Celah Timor, dimana Timor-Leste memperoleh porsi paling tinggi dibandingkan dengan negara tetangganya itu, kucuran dana segar ini mempermudah pemerintah Timor-Leste untuk menggalakan program-program ekonomi dan social.

Sektor pelayanan umum seperti rumah sakit, gedung sekolah, jalan raya, listrik, air bersih, irigasi dan pertanian menjadi prioritas pemerintah. Kerana untuk investasi asing pun mulai dibuka, beberapa perusahaan perbankan dari Portugal, Australia dan Indonesia memperlebar sayap mereka ke Timor-Leste. ANZ-Bank dari Australia, Bank Mandiri dan Bank Rakyat Indonesia (BRI) dari Indonesia serta Banco Nacional Ultramarino (BNU) dari Portugal. Disamping itu, ada juga beberapa supermarket yang berseliweran di pusat kota dan di pinggir jalan, kebanyakan pemiliknya berasal dari China, Indonesia, Singapore dan Australia.

Baca Juga : Tenente Jenerál Falur Rate Laek Mak Propoin Fó Kondekorasaun Medalla Méritu bá Hendropriyono

Advertisement

Bekas Provinsi ke-27 Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) inipun seketika berubah menjadi surga bagi para imigran dari berbargai negara, terutama Indonesia. Penduduk Indonesia yang berada di Timor Leste, sebagian dari mereka sudah berada di negeri sejak masa pendudukan militer Indonesia serta telah memperoleh kewarganegaraan sebagai warga negara Timor-Leste. Pasca jajak pendapat pada tahun 1999, sebagian warga negara Indonesia ini ada yang memilih menetap di Timor-Leste, ada pula yang mengungsi ke Indonesia setelah politik bumi-hangus, tapi memutuskan untuk kembali lagi dan berbaur dengan penduduk lokal.

Meskipun mendapatkan dana segar dari konsesi minyak dengan Australia di Celah Timor, negara muda ini tetap dianggap sebagai salah satu negara termiskin di Asia, dari segi sumberdaya manusia dan pembangunan fisik, menurut pendapat berbagai pihak, tidak banyak kemajuan yang dicapai oleh Timor-Leste pasca melepaskan diri dari Indonesia.

Walaupun berdasarskan data yang di-release oleh South East Asia Country klasifikasi pendapatan sebelas negara di Asia Tenggara untuk tahun 2022-2023, peringkat Timor-Leste tidaklah terlalu mengecewakan karena menempati urutan ke Sembilan dari 11 negara, tepat berada di atas Cambodia dan Myanmar.

Romantisme sejarah nampaknya turut berperan terhadap narasi “Timor-Leste yang miskin setelah lepas dari Indonesia.” Karena itu tidaklah mengherankan kalau narasi-narasi seperti itu muaranya selalu dari negara tetangga, Indonesia. Sekilas, meskipun Timor-Leste dideskripsikan dengan kemiskinanya, tapi di saat yang bersamaan negara ini merupakan surga bagi investor Indonesia.

Pada tahun 2018, Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) mengatakan bahwa ada sekitar 9 BUMN dan 400 perusahaan yang dimiliki warga negara Indonesia beroperasi di Timor-Leste. Nilai investasi Indonesia di Timor-Leste mencapai lebih 595 juta dolar AS, kata Presiden Jokowi dalam pernyataan pers bersama Presiden Timor Leste (2017-2022), Francisco Guterres “Lú Olo”, di Istana Kepresidenan Bogor, pada saat kunjungan kenegaraan Presiden Timor-Leste ke Indonesia.

Advertisement

Disamping itu, Timor-Leste juga megimpor sebagian bahan-bahan kebutuhan pokok, sandang dan pangan seperti Supermie, gula, pasir, beras, garam, minyak goreng dan kebutuhan dasar lainya dari Indonesia. Berbagai fakta ini menunjukkan bahwa sumbangsih Timor-Leste untuk perkembangan ekonomi di Indonesia tidak bisa dielakkan.

Baca Juga : Timor-Leste Beri Penghargaan Kepada Gubernur NTT Atas Peranannya dalam Rekonsiliasi

Hal yang patut disayangkan adalah selama ini banyak media mainstream di Indonesia mengambarkan Timor-Leste berpotensi sebagai negara gagal dan terancam bangkrut karena tidak bisa memerintah diri sendiri setelah melepaskan diri dari Indonesia. Walaupun kenyataan berbicara sebaliknya, karena sebagian besar bisnis perbankan dan berbagai proyek konstruksi di Timor-Leste melibatkan berbagai perusahaan dari Indonesia mereka memperoleh keistimewaan atas tender beromzet miliaran Dollar Amerika.

Berdasarkan data yang diperoleh Hatutan.com dari Lembaga Pelayanan Umum, Pendaftaran dan Verifikasi Usaha (SERVER, I.P), tercatat sedikitnya ada 4.000 perusahaan yang terdaftar di lemaga ini, sebagian besar adalah milik warga negara Indonesia (WNI) yang bermukim di Timor-Leste.

“Para WNI yang membuka usaha di Timor-Leste dan mendapat izin usaha dari SERVER,I.P sebanyak 4.000. Mereka juga mendapat sertifikat nomor pajak dan sertifikat izin usaha,” kata Direktur Eksekutif SERVER,I.P, Florêncio Sanches saat ditemui Hatutan.com di ruang kerjanya, baru-baru ini.

Advertisement

Lembaga ini (SERVER, I.P) juga mencatat bahwa dari ribuan perusahaan milik WNI tersebut kurang lebih enam perusahaan yang berkantor pusat di Indonesia dan menggarap proyek infrastruktur pemerintah Timor-Leste, sedangkan 4.005 perusahaan lainnya langsung beroperasi di Timor-Leste.

Baca Juga : Timor-Leste: Negri tak Dikenal, Pengganti Gas Alam Russia

Selain beberapa perusahaan yang menangani mega-proyek, seperti konstruksi jalan raya, irigasi, jembatan dan gedung instansi pemerintah. Ada juga sejumlah usaha berskala kecil dan menengah, seperti warung, toko pakaian, usaha perbengkelan (motor dan mobil). Selain itu terdapat pula warga negara Indonesia yang berprofesi sebagai buruh bangunan.

Sebut saja Warsinah, WNI yang menjual nasi kuning di Kampung Alor, Dili, merasa sangat bahagia karena bisa membuka usaha kuliner di Dili dan meraup ratusan dollar Amerika Serikat (US) setiap harinya.

“Pokoknya merasa nyaman di negara ini. Pendapatan harian dari hasil jualan nasi kuning berkisar antara 100 dollar AS per hari,” kata Warsinah.

Advertisement

Sementara itu Ajury Nryron, WNI yang berprofesi sebagai tukang bangunan atau manajer proyek di perusahaan GNS Lda yang saat ini sedang mengerjakan proyek fisik dibawah perusahaan lokal Esperansa Timor Oan (ETO) Store di Colmera, Dili, mengatakan, sejak tahun 2010 dia sudah berada di Timor-Leste dan sangat bersyukur bisa bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarganya di Indonesia.

“Saya sangat beryukur bisa bekerja di Dili untuk membantu kehidupan ekonomi keluarga saya di Indonesia,” tuturnya.

Hal senada juga disampaikan oleh Munawar, pemilik perusahaan Mustika Mebel di Kawasaun Luru-Mata, Comoro, Dili. Perusahaan ini mempekerjakan sedikitnya 10 orang WNI dan mereka mendapatkan bayaran dalam bentuk mata uang dollar AS per bulannya untuk menyambung hidup serta mengirimkan untuk sanak keluarga di Indonesia.

Yaseer Arafat, seorang pedagang asal Indonesia yang membuka usaha jualan pakaian di Golgota Mall mengatakan, dirinya sudah menganggap Timor-Leste sebagai rumah ke-dua setelah Indonesia. Di Timor-Leste, dia berdagang pakaian dan meraup keuntungan agar bisa menunjang hidupnya sendiri dan kebutuhan keluarganya di Indonesia.

Yasser sudah berada di Dili sejak tahun 2003. Dia menjalankan usaha keluarganya dan sangat beruntung karena selama berdagang di Timor-Leste tidak mendapatkan kendala dari segi bisnis maupun keamanan. “Saya melanjutkan usaha orangtua saya di Timor-Leste dan saya sangat beruntung bisa membuka usaha di Timor-Leste,” ungkapnya.

Advertisement

Dalam kesempatan yang berbeda, Menteri Koordinator Bidang Ekonomi Timor- Leste, Joaquim Amaral, mengakui bahwa, aktivitas perdagangan di Timor-Leste didominasi oleh pedagang asing terutama Indonesia dan China.

Timor-Leste sendiri mengadopsi system perekonomian pasar bebas dan oleh karena itu, Timor-Leste harus membuka diri untuk aktivitas investasi asing. Melalui aktivitas investasi skala kecil, menengah dan besar oleh warga negara asing di TimorLeste, terlebih WNI dan China, secara tidak langunsg berkontribusi terhadap pembangunan di Timor-Leste, termasuk membuka lapangan kerja bagi bagi penduduk lokal.

Menurut data Kementerian Koordinator untuk Urusan Ekonomi, setidaknya investasi asing di Timor-Leste berkontribusi terhadap pajak per tahun sekitar 300.000 dollar AS. Data tersebut tidak termasuk kontribusi dari para pedagang asing dan tenaga kerja asing di Timor-Leste.

Dari berbagai deskripsi perekonomian Timor-Leste serta kehadiran perusahaan berskala kecil, menengah dan besar di atas. Siapa untung dan siapa yang buntung?

Apakah Timor-Leste benar-benar negara yang miskin, nyaris bangkrut dan terancam jadi negara gagal (failed states) seperti yang didengungkan oleh media dan para pengamat konservatif selama ini? Hanya waktu yang bisa membuktikan.

Advertisement

Baca Juga : RI-TL Uji Coba Armada DAMRI Rute Kupang-Dili

Reporter : Luciana Verdial/Elio dos Santos da Costa

Kontinua Le'e
Advertisement
Hakarak Hato'o Komentariu?

Husik Hela Komentariu

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Nasionál

CI ho ABC-ID Lansa Matadalan Jornalizmu Inkluzivu

Published

on

Hatutan.cm, (16 Abríl 2024), Díli—Conselho de Imprensa (CI) servisu hamutuk ho Australia Broadcasting Coorporation-International Development (ABC-ID) hala’o lansamentu bá Matadalan Jornalízmu Inkluzivu.

(more…)

Kontinua Le'e

Nasionál

Projetu Reabilitasaun Estrada iha Díli Laran “La Obedese” bá Prinsípiu Transparénsia

Published

on

Hatutan.com, (16 Abríl 2024), Díli– Iha Rejime Jurídiku Aprovizionamentu (RJA) fó sentidu katak  projetu fíziku (projetu ho karater emerjénsia ka karater normal)  ne’ebé iha implikasaun bá Orsamentu Estadu nian tenke tane as no garante prinsípiu transparénsia.

(more…)

Kontinua Le'e

Nasionál

Prezidente Repúblika ho CCI-TL Diskute Dezafiu Investimentu iha TL

Published

on

Hatutan.com, (16 Abríl 2024), Díli Prezidente Repúblika (PR), José Ramos-Horta hamutuk ho Câmara Comercio Indústria Timor-Leste (CCI-TL) hala’o diskusaun kona-bá dezafiu investimentu iha Timor-Leste liuliu liga ho lejislasaun sira.

(more…)

Kontinua Le'e
Advertisement

Trending